Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di-jalanNya dalam barisan yang teratur,
mereka seakan-akan seperti bangunan yang tersusun rapih (QS. Ash Shaff (61) : 4)


Cari produk
Realita dan sosial | Print |  E-mail
Saturday, 06 December 2008

Tidak sengaja, penulis melihat tulisan dalam sebuah Koran “angka kemiskinan Rakyat Indonesia  turun 17,7% “ data yang didapat pemerintah dari BPS (Badan Pusat Statistik) namun penulis melihat kenyataan di lapangan ternyata jauh dari kenyataan,  ini dialami oleh penulis hari itu Ahad tanggal 31 Agustus 2008 penulis beserta istri mengikuti acara sosial dalam rangka Tarhib Ramadhan (menyambut Ramadhan).
Satu demi satu warga mulai mendatangi tempat acara tidak terasa warga terkumpul sesuai dengan waktu yang di susun oleh panitia. Sambutan demi sambutan memulai acara silih berganti.. Yang terbesit dan terngiang di telinga penulis yaitu sambutan dari Kepala RT lingkungan tersebut yaitu mengatakan bahwa ini hanya 1/10 dari warga Dhuafa yang ada dalam lingkungan tersebut yang hadir di acara ini, bayangkan secara logika bahwa dalam satu RW (Rukun Warga) penulis menafsirkan terdapat 100 KK berarti hanya 10 KK yang hadir dalam acara tersebut. Itu hanya contoh dari satu RW dalam kelurahan entah seberapa besar bila satu Kecamatan, Kabupaten, Kotamadya, Kotif, dan Kota apalagi bila satu provinsi.
Itulah realita di negeri yang subur, sumber daya Alam melimpah. Dari tulisan diatas  sebenarnya penulis ingin mengoreksi data dari BPS atas dasar apa Badan itu menilai dan menyimpulkan analisis dari Angka kemiskinan. Oke kalo kita berpikir salah satu penilaian kemiskinan yaitu pendapatan perkapita penduduk Indonesia berapa banyak rakyat Indonesia yang berpendapatan kurang dari 100 ribu/bulan (10 US Dollar) sedangkan syarat paling minimal masyarakat dikatakan tidak menyandang miskin yaitu pendapatan sudah melebihi 150 ribu /bulan atau sekitar (15 US Dollar) dan bisa mencukupi kebutuhan pokoknya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Jadi secara kasat mata saja menilai analisis dari BPS itu tidak benar ritu kurang benar. Semoga tulisan ini menggugah kita selaku orang yang tidak menyandang gelar miskin lebih peduli kepada sesama, dan berbagi kepada orang yang berhak menrima bantuan. Ingat lah tuntunan kita bahwa Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan untuk peduli kepada sesama. Penulis tutup tulisan ini firman Allah  :
Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya ‎dijalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangki, pada setiap ‎tangki terdapat 100 biji ". Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Jadi tidak kata bahwa dengan peduli ke sesama baik itu lewat zakat, infaq, dan sedekah akan mengurangi harta kita. Wallohu’alam bi Showab.